Kultur sekolah
Nama : Muhammad As'ad
Nim : 11901323
Kelas : PAI 4C
Karakter seseorang dapat dilihat dan dilihat dari cara seseorang tersebut berpikir dan berperilaku. Dan itu semua menjadi ciri masing-masing individu untuk hidup dan khas masing-masing, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Seorang manusia dapat mengambil keputusan sebagai pribadi yang berkarakter baik ramah lingkungan tersebut dapat membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang diperbuatnya. Setiap dari kita juga dapat memahami istilah "karakter" dari sudut pandang perilaku yang menekankan unsur somatopsik yang dimiliki setiap individu sejak lahir. Dari sudut pandang ini, istilah karakter pendekatan sama dengan kepribadian. Maka, seseorang yang berkarakter baik berarti memiliki kepribadian yang baik. Demi membentuk karakter yang baik dan sesuai dengan falsafah dan cita-cita kemerdekaan Indonesia, melalui amanah yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, negara pemerintahan agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter , agar nantinya akan lahir penerus bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafaskan nilai-nilai luhur bangsa dan agama. Dan maka dari itu, pendidikan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional dan bagian esensial dalam proses pendidikan formal.
Pendidikan karakter merupakan salah satu gerakan bersama dan sengaja diciptakan untuk melahirkan sebuah ekosistem pendidikan yang ramah secara moral. Pendidikan karakter bukan sebatas sebuah kegiatan dan progam pendidikan yang memiliki tujuan utama adalah pertumbuhan individu sebagai pribadi yang bermoral yang dewasa dan bertanggung jawab, melainkan juga sebuah usaha membangun lingkungan dan ekosistem pendidikan yang mampu mengembangkan budaya sekolah sebagai komunitas moral di mana semangat individu sebagai pembelajar bertumbuh . Dan pengembangan kultur sekolah sebagai salah satu locus educationpenting bagi pengembangan pendidikan karakter yang utuh dan menyeluruh. Di sini, Doni Koesoema yakin bahwa kultur sekolah menjadi kunci utama dari pendidikan karakter yang diselenggarakan sekolah.Pria yang pernah menjalani pendidikan menengah di SMA Seminari Santo Vincentius a Paulo, Garum, Blitar, Jawa Timur ini menyusun buku ini dengan sasaran utama yakni para kepentingan pemangku kepentingan pendidikan, seperti guru, kepala sekolah, orang tua, dan pengambil kebijakan di tingkat daerah dan pusat dalam rangka merealisasikan Penguatan Pendidikan Karakter di sekolah. Fokus utama buku ini yakni bagaimana eksplorasi konsep dan praksis tentang pendidikan karakter berbasis kultur sekolah dalam rangka menumbuhkan ekosistem moral pendidikan.
Peran Pendidik dalam Pendidikan Karakter Berbasis Kultur di Sekolah Secara umum diketahui bahwa orangtua merupakan pendidik karakter, termasuk kultur, yang pertama dalam diri seorang anak. Di satu sisi, anak memperoleh pendidikan karakter di tengah keluarga. Anak menyerap atau meniru kultur yang dibangun di dalam keluarga. Anak akan membawa kultur yang diserapnya atau ditirunya dari keluarganya ke sekolah. Di sisi yang lain, anak juga menghabiskan sebagian tenaga, pikiran dan melewatkan waktunya berjam-jam, berhari-hari, bertahun-tahun berada di sekolah untuk mendengarkan pelajaran, membaca buku. Kedua lembaga tersebut tentulah tidak harus saling dipertentangkan mengenai mana yang lebih penting dalam hal mendidik karakter, terutama kultur. Namun, perlu diakui bahwa keluarga membutuhkan lembaga pendidikan, dan lembaga pendidikan membutuhkan keluarga dalam melaksanakan visi dan misinya. Lembaga di sekolah merupakan perpanjangan dari pendidikan dalam keluarga. Keduanya saling mengisi untuk mendidik generasi penerus memiliki kultur yang baik. Betul bahwa pendidikan karakter di sekolah merupakan tanggung jawab seluruh warga sekolah. Setiap warga di sekolah tidak terlepas dari kultur sekolah itu sendiri sekaligus mempengaruhi dalam membangun kultur sekolah. Namun, tanggung jawab yang lebih besar berada di kepala sekolah dan guru.
Kepala sekolah merupakan sosok yang berperan menjadi model dalam membangun kultur sekolah. Kepala sekolah berperan mengkomunikasikan nilai-nilai inti yang berlaku dalam pekerjaan setiap hari. Para guru berperan memperkuat nilai-nilai tersebut dalam tindakan-tindakan dan kata-kata. Bahkan para guru, seperti kebanyakan organisasi lainnya, menyelaraskan keyakinan dan perilaku selaras dengan struktur, kebijakan dan tradisi di lingkungan sekolah, ada beberapa kendala yang menghambat implementasi pendidikan karakter berbasis kultur di sekolah sehingga tidak maksimal, khususnya terkait dengan proses mengajar. Diane oberg, dalam tulisannya Changing School Culture: The Role of the 21st Century TeacherLibrarian, mengatakan bahwa ada tiga norma tradisional mengajar, yaitu conservativism (berpandangan bahwa “Saya menyukai sekolah ini dan sudah sangat bagus, sehingga saya tidak melihat suatu kebutuhan untuk mengubahnya), individualism (berpandangan bahwa “Dulu saya belajar mengajar dengan cara saya, sekarang saya mengajar dengan cara saya sendiri), dan presentism (berpandangan bahwa”Penghasilan yang saya dapat terkait dengan pendidikan dan pengalaman, bukan terkait kepada busaha/karya dan akibat), yang membuat perubahan kultur sekolah sangat sulit. Mungkin pemahaman yang muncul kemudian adalah bagaimana kultur sekolah dipahami oleh guru dan hubungan saling- antara kultur sekolah dengan keyakinan, perilaku dan sikap guru itu sendiri. Di sinilah perlu dibongkar persepsi seorang guru tentang organisasi sosial (sekolah), tempat mereka bekerja. Maka, dengan persepsi organisasi sosial sekolah, yang terdiri dari sembilan variabel organisasi sosial yaitu teacher certainty, teacher cohesiveness, teacher collaboration, teacher complaints, teacher evaluation, faculty goal setting, managing student behavior, parent involvement dan teacher learning opportunities, akan menolong para guru memahami serta mendefinisikan kultur sekolah, mendefinisikan sifat pekerjaan mereka, perasaan para guru terhadap pekerjaan mereka, dan substansi dari pekerjaan mereka. Memang diakui bahwa tugas serta tanggungjawab seorang guru sangatlah berat. Selain guru sebagai pendidik sekaligus pengajar, role model dalam implementasi basis kultur, maka kepemimpinan guru, baik dalam mendidik maupun mengajar, juga menjadi hal penting dalam membangun kultur sekolah. Sebagai pengajar/pendidik, seorang guru memiliki etos keguruan. Etos dalam arti perdananya –aslinya ‘ethos’ berasal dari bahasa Yunani – adalah semangat, mentalitas, dan karakter. Menurut Jansen Sinamo, sebagaimana dikutip oleh Jan S. menyebutkan ada 8 Etos Keguruan, yaitu
1) Keguruan adalah Rahmat
2) Keguruan adalah Amanah
3) Keguruan adalah Panggilan
4) Keguruan adalah Aktualisasi
5) Keguruan adalah Ibadah
6) Keguruan adalah Seni
7) Keguruan adalah Kehormatan
8) Keguruan adalah Pelayanan. Dengan ke-8 etos tersebut diharapkan guru mampu mengimplementasikan pendidikan karakter berbasis kultur sekolah
Selain itu, kultur yang terbentuk di sekolah yaitu kultur positif dan kultur toxic. Disebut sebagai kultur positif sebuah sekolah ketika seluruh warga sekolah merasakan kenyamanan, positif, dan penuh keyakinan serta harapan. Ada beberapa kultur positif sekolah yaitu guru menuangkan hatinya dalam mengajar norma-norma dasar tentang kolegialitas, peningkatan, dan kerja keras; ritual dan tradisi merayakan pencapaian siswa, inovasi guru, dan komitmen orangtua; tersedianya jaringan komunikasi serta keberhasilan, kebahagian dan humor berlimpah-limpah. Sebaliknya, dalam kultur toxic sekolah biasanya terbentuk serta ditemukan dalam suasana depresi dan frustrasi, baik guru maupun warga sekolah lainnya tidak yakin serta tidak dapat membawa perubahan serta tidak membawa peningkatan sekolah ke level yang lebih tinggi; saling menyalahkan, Bila dikaitkan dengan pemahaman kultur sekolah, maka ada tiga kultur sekolah yaitu kultur efikasi (culture ofefficacy), misalnya pengalaman keahlian, pengalaman delegasi, persuasi sosial dan bangunan emosional kultur percaya (culture of trust). Yang pertama sekali dalam kultur percaya ini adalah para guru harus percaya kepada kepala sekolahnya; dan kultur optimisme akademis (culture of academic optimism), optimisme merupakan payung yang menyatukan efikasi dan percaya dengan tekanan akademis. Dengan demikian, kultur positif serta kultur kolaborasi bersinergi dengan kultur beefikasi, kultur trust dan optimisme akan menghasilkan sebuah kultur sekolah yang mampu mengimplementasikan pendidikan karakter. Ketika kultur yang baik tadi sudah menjadi kebiasaan bersama yang dilakukan dan dipercaya oleh sekolah, serta menghilangkan kultur yang tidak baik tadi, maka melembagakan kultur nilai yang baik tadi dalam sebuah penguatan sistem menjadi sebuah hal yang tidak terelakkan lagi. Institusionalisasi kultur nilai itulah yang akan menjaga kekonsistenan sekolah. Mendidik karakter berbasis kultur sekolah tidak hanya soal dalam hal aturan-aturan sekolah atau hal-hal yang biasa dilakukan secara terjadwal/terencana. Mendidik karakter siswa melalui basis kultur di sekolah berarti mendidik keyakinan, sikap, perbuatan, yang nantinya akan mengembangkan manusia- manusia yang berbudaya. Tanggungjawab pendidikan karakter berbasis kultur di sekolah ini terletak pada kolaborasi guru di sekolah dan sistem pendidikan serta kultur secara utuh dan menyeluruh. Sebagai sebuah lembaga kebudayaan, maka peran seorang pendidik dalam pendidikan karakter berbasis kultur sekolah ini sangat penting, terlebih terkait dengan makna kultur sekolah itu sendiri, sebagai seorang pendidik/ pengajar, role model dan pemimpin kultur sekolah, dalam keyakinan, sikap, perilaku, perasaan dan nilai-nilai. Sekolah yang berkultur adalah sekolah yang mendorong mengembang- kan kultur karakter yang baik. Mengevaluasi dan mengkritisi kultur sekolah sebagai sebuah basis implementasi pendidikan karakter tetaplah diperlukan guna tetap memelihara keberhasilan sekolah dan siswa serta masa depan sekolah. Proses reculturing sangat diperlukan sebagai sebuah proses yang terus menerus sekaligus. Keberhasilan membangun karakter siswa melalui kultur sekolah akan menjadi bahan perbincangan, baik orangtua maupun masyarakat berbudaya, ketimbang yang lainnya. Selain evaluasi dan refleksi, sekolah lebih mencurahkan terhadap perencanaan artifacts dan practices yang lebih berbobot dalam membangun kultur yang berkarakter. Kultur sekolah merupakan salah satu konsep yang paling rumit dan penting dalam pendidikan. Mendefinisikan apa itu kultur sekolah bukanlah sesuatu yang mudah. Mungkin sulit bagi kita menggambarkan kultur sekolah dengan kata-kata, namun kita dapat merasakannya ketika masuk dalam lingkungan sekolah tersebut, mulai dari gerbang sekolah sampai kantin sekolah. Seperti udara yang kita hirup dan air yang kita minum, kultur merupakan sumber kehidupan sekolah. Setiap sekolah memiliki kulturnya masing-masing, apakah itu lemah atau kuat, berfungsi atau tidak berfungsi.Yang membedakan kultur sekolah dengan kultur organisasi umumnya, adalah bahwa masukan dan keluarannya adalah manusia, secara khusus peserta didik.
Buku ini saya pandang dapat memperluas pembahasan tentang pendidikan karakter berbasis sekolah. Di mana ketika pemerintah hanya menyebutkan pendidikan karakter berbasis kultur sekolah dipraktikan dan diintegrasikan dalam kegiatan ekstrakulikuler, seperti Palang Merah Remaja, Pramuka, Karawitan, Tari, dan sebagainya; buku ini mampu secara langsung menganilisis dan mengembangkan budaya lingkungan pendidikan.
Buku ini mampu menyatakan bahwa pendidikan karakter berbasis kultur sekolah adalah bagian integral dari total dinamikan praksis dan interaksi antarindividu dalam sebuah lembaga pendidikan yang membentuk sebuah kultur moral di lingkungan pendidikan. Dan saya sangat jelas melihat bahwa di sini budaya itu adalah sesuatu yang diciptakan, bukan dipasang secara otomatis turun temurun.
Judul Buku: "Pendidikan Karakter Berbasis Kultur Sekolah"
Penulis: Doni Koesoema
Penerbit: Kanisius, 2018
Komentar
Posting Komentar